Translate

28 Januari 2012

Sasakala (Desa) Cihaurbeuti

Sejarah Desa Cihaurbeuti belum diketahui secara pasti. Penyusun berusaha menggali informasi dari kalangan tokoh masyarakat Cihaurbeuti yang mengetahui sejarah Cihaurbeuti.
Pemerintahan Cihaurbeuti diketahui sejak jaman kepemimpinan Dalem (Bupati) yaitu Rd. Dalem Yuda atau Jayuda, selanjutnya Rd. Dalem Dipajaya Sepuh, selanjutnya Rd. Dalem Dipajaya II, terus Rd. Dalem Demang Dipajaya (dibuang), dan baru pada kepemimpinan Rd. Wirayuda ada sebutan Kuwu Cihaurbeuti, terus Mas Adi Praja. Tentang tahun dan lamanya para dalem dan kuwu tersebut memimpin di Cihaurbeuti sama sekali tidak diketahui. Kemudian Pada Tahun 1942, Masyarakat Cihaurbeuti dipekerjakan oleh Tentara Jepang sebagai Tenaga Romusa. Pada Tahun 1945 Pecahanya Perang Dunia ke II, dan pada tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia menyatakan sebagai Negara yang merdeka.
Dihimpun dari beberapa orang Tokoh Masyarakat Cihaurbeuti selaku nara sumber, informasi yang diperoleh adalah :
(1) Tahun 1948, diketahui Kuwu Cihaurbeuti pada saat itu yaitu bernama IDI WARGA SASMITA, keberhasilan yang dicapai pada saat itu meningkatnya Produksi Pertanian karena Kuwu memerintahkan warga masyarakat untuk menanam singkong dan jagung.
(2) Pada saat kepemimpinan Kuwu IING MOCHAMMAD KOSIM, dibuat jembatan ke tiap Dusun, pelebaran jalan desa dan pembangunan Gedung Serba Guna Cihaurbeuti.
(3) Pada saat kepemimpinan Kuwu CHOLIL ALAMSYAH, Cihaurbeuti dimekarkan menjadi dua desa, yaitu Cihaurbeuti dan Sumberjaya. Pada saat itu Kuwu CHOLIL ALAMSYAH memilih menjadi Kepala Desa Pamekaran yaitu Sumberjaya, sedangkan untuk Cihaurbeuti diselenggarakan kembali pemilihan dengan memilih Kuwu IING MOCHAMMAD KOSIM.
(4) Pada saat kepemimpinan Kuwu IING MOCHAMMAD KOSIM yang kedua kalinya (1980-1989), Gunung Galunggung meletus pada Tahun 1982 yang mengakibatkan tumbuhan dipenuhi debu dan banyak ternak yang mati. Pada tahun 1986, Kantor Polsek Cihaurbeuti dibangun dengan swadaya murni masyarakat.
(5) Tahun 1989-1998, Cihaurbeuti dipimpin oleh Kuwu MAMAN. Pembuatan saluran air Jengkolpandak-Selajambe-Legok kondang, pemindahan Lapang Sepak Bola, Pembuatan Jalan Baru (Jalan Provinsi) oleh Binamarga Provinsi dari Dusun Desa Tengah sampai jalan layang Rajapolah, dibangun SMPN 2 Cihaurbeuti, dibangun Madrasah Aliyah Al-Ikhlas, dibangun Mesjid Jami ISLAHUNAJA bantuan Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila dan dibangun Mesjid Jami ATTHOAT.
(6) Tahun 1998-2007 Cihaurbeuti dipimpin oleh Kuwu DEDE HENDRAWAN. Pengaspalan jalan Dusun Selajambe, Pengaspalan Jalan Dusun Buniasih, pembuatan saluran air bersih (WSLIC-II), dibangun irigasi dan saluran air di Dusun Desa Kaler, pengaspalan jalan Ranggon di Dusun Selajambe, pembangunan P2BMOK, rehabilitasi jalan desa dari Dusun Desa Kaler sampai Dusun Buniasih, pembangunan Gedung Dakwah Islam, dibangun SPBU, dan dibangun Polsek Cihaurbeuti dari anggaran APBD Kabupaten Ciamis.
(7) Tahun 2007 sampai dengan sekarang, Cihaubeuti dipimpin oleh Kuwu Ir. JAJAT SUDRAJAT. Pengaspalan dan perbaikan jalan tanjakan Dusun Baketrak, rehabilitasi Kantor Desa, Pembuatan Gorong-gorong Dusun Jengkolpandak dan Dusun Baketrak, penembokan saluran irigasi uyut, rehabilitasi jalan Baketrak sampai dengan Dusun Buniasih, pembuatan jalan di Dusun Buniasih, pembuatan jalan Pasir Geulis di Dusun Kidul, Pralonisasi Air Bersih di Dusun Buniasih, pemasangan Paping Block Halaman Kantor Desa, Saluran Air Bersih di Dusun Selajambe, TPT/Kirmir jalan dusun Baketrak-Jengkolpandak-Selajambe dan rehabilitasi pengaspalan jalan desa di Dusun Tengah-Baketrak.
(Sumber : desacihaurbeuti.blogspot.com)

Read more »

28 Maret 2011

Banjir Bandang Cihaurbeuti Bak Tsunami


Cihaurbeuti, Banjir bandang akibat luapan Sungai Ciharus memporakporandakan lima dusun di Desa Padamulya, Kecamatan Cihaurbeuti Ciamis, Senin (28/3/2011) pukul 14.30 WIB. Ratusan rumah rusak, termasuk masjid dan madrasah. Berikut komplek Pesantren Darul Amira di Dusun Ciawitali pun porak poranda.
Batu, potongan kayu, dan sampah berserakan dibawa banjir. Lima dusun yang porak poranda diterjang banjir bandang tersebut masing-masing Dusun Seda Kidul, Seda Kulon, Ciawitali, Bojong dan Dusun Cigorowong. Ribuan warga dilanda kepanikan menyusul musibah yang terjadi dikaki Gunung Syawal tersebut .
Dua warga meninggal dunia menyusul kejadian tersebut, masing-masing Mak Ocoh (80) warga Dusun Seda Kaler, serta mang Ikin (70) warga Dusun Ciawitali Rt 05 RW 08.
Rumah Mang Ikin yang berada disamping Komplek Pesantren Darul Amira porak poranda hanyut disapu banjir bandang. Jasad Mang Ikin ditemukan dekat mesjid Dusun Ciawitali sekitar 1 km dari rumahnya. Sementara itu seorang bocah belum diketahui nasibnya.
Banjir juga memutuskan jalur jalan desa yang menghubungkan Dusun Ciawitali dengan jalan raya Cihaurbeuti- Panumbangan, berikut arus lalu lintas jalan raya Cihaurbeuti-Panumbangan juga terputus karena dipenuhi puing-puing banjir.
Sumber : Tribunnews, 28 Maret 2011.

Read more »

Banjir Bandang Cihaurbeuti, Ribuan Warga Mengungsi


Cihaurbeuti, Banjir bandang akibat luapan Sungai Ciharus memporakporandakan lima dusun di Desa Padamulya, Kecamatan Cihaurbeuti Ciamis, Senin (28/3/2011). Khawatir terjadinya longsor dan banjir bandang susulan, ribuan warga Desa Padamulya meninggalkan rumah mereka. Sampai pukul 18.00 gelombang pengungsian terus terjadi, warga membawa barang seadanya meninggalkan rumah masing-masing dibawah guyuran hujan.
“Sampai magrib sekitar 3000 warga sudah menugsi, ke mesjid-mesjid, sekolah dan madrasah. Juga ke kantor kecamatan Cihaurbeuti. Paling banyak ke Desa Pasir Tamiang yang berbatasan langsung dengan lokasi kejadian. Sekitar 500 warga mengungsi di Madrasah Talbiyah Pasir Tamiang,” ujar Camat Cihaurbeuti Drs H Sahlan.
Proses pengungsian warga masih terus berlangsung. “Yang paling utama sekarang adalah penyelamatan warga, proses evakuasi,” ujar Kepala Disnakertransos Ciamis, Drs H Herdi Saleh kepada Tribun dilokasi kejadian.
Hal serupa juga diungkapkan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ciamis Odang R Wijaya SH di lokasi kejadian. “Kondisi lokasi sangat mengkhawatirkan apalagi hujan masih turun. Kita minta warga meninggal lokasi untuk mengungsi,” ujar Odang.
Proses evakuasi warga sebagian besar dengan menggunakan sepeda motor secara gotong royong oleh warga tetangga, berikut menggunakan mobil bak terbuka mobil ambulance, mobil petugas. Relawan dari berbagai pihak juga berdatangan ke lokasi seperi Tagana, PMI, FPI hingga Pandu Keadilan untuk melakukan evakusi bersama petugas dan warga sekitar.
Menurut penuturan Ojoh (40) warga Dusun Seda Kidul Rt 06 RW 07 kepada Tribun, malapetaka yang menimpa dusunnya tersebut terjadi hanya setelah hujan lebat mengguyur sekitar setengah jam sebelumnya.
“Hujannya lebat sekali mulai pukul 14.00, saya lagi nunggu anak saya pulang sekolah. Tiba-tiba sekitar pukul 14.30 terdengar suara gemuruh dari arah gunung Syawal. Suaranya keras sekali disertai getaran tanah. Menakutkan sekali, seperti mau kiamat, apalagi tiba-tiba listrik mati. Hujan masih turun,” ujar Ojoh.
Tiba-tiba Sungai Ciharus meluap, melabrak sawah, kebun dan rumah dikiri kanannya. “Air sungai keruh, banyak potongan pohon dibawanya. Untung rumah saya selamat, tapi kami takut terjadi longsor susulan,” ujar Ojoh bersama 4 anggota keluarganya memilih mengungsi ke Dusun Cipecak Desa/Kecamatan Cihaurebeuti.
Menurut penuturan H Endang Ishak, pengasuh Pondok Pesantren Darul Amira Dusun Ciawitali, banjir bandang yang melanda lima dusun termasuk memporak porandakan komplek Pesantren Darul Amira yang punya santri tersebut akibat longsornya tebing Gunung Syawal dekat Curug Panjang yang berlokasi sekitar 2 km dari pemukiman penduduk.
“Longsoran tebing tersebut kemudian membendung Sungai Ciharus sehingga air sungai meluap dan terjadilah banjir bandang yang memporak porandakan desa ini. Seminggu terakhir hujan lebat memang turun tiap sore, tapi sore tadi hujannya lebat sekali,” ujar H Endang yang menuding banjir bandang ini juga akibat kerusakan hutan di kawasan gunung Syawal tersebut. “Tiap hari ada saja truk penangkut kayu dari kawasan hutan yang lewat jalan depan pesantren ini,” ujar H Endang prihatin.
Sumber : Tribunnews, 28 Maret 2011.

Read more »

ANTARA News