Translate

24 Desember 2012

Cagar Budaya Sukahurip, Cihaurbeuti


Sekitar 1883, seorang paninggaran (pemburu) yang bernama Aki Buyut Mahad, asal Ciamis, berangkat beserta rombongan ke Gunung Bongkok untuk berburu “mencek” (rusa, kijang) dengan bersenjatakan tombak, golok, dan kujang (senjata tradisional Sunda).
Diceritakan setelah lama berada di hutan, tidak tampak ada binatang yang akan diburunya. Hari semakin sore, binatang buruan belum juga didapatkan, maka mereka memutuskan untuk pulang.
Di tengah perjalanan, Aki Buyut Mahad dan rombongan yang tengah beristirahat di bawah pohon rindang, dikejutkan oleh gerakan di semak belukar. Mengira ada hewan buruan, secara rikat Aki Buyut melemparkan tombaknya kearah semak tersebut.
Namun ternyata, tiba-tiba muncul seorang lelaki tinggi besar, kekar, dan berkulit hitam. Orang tersebut nyaris menjadi sasaran tombak, “nyalahan” dalam istilah Sunda. Dikira kijang, ternyata seorang laki-laki yang kemudian diketahui bernama Bang Item.
Bang Item adalah buronan Belanda dari Batavia. Ketika Indonesia masih dijajah Belanda, pada tahun 1880 Bang Item melakukan pemberontakan di Batavia (Jakarta sekarang). Merasa terdesak oleh Belanda, Bang Item dan pengikutnya melarikan diri dari Batavia menuju hutan. Dengan berjalan kaki, terdamparlah di suatu tempat yang sekarang dinamakan Palasari.
Konon dinamakan Bang Item karena orangnya tinggi besar dan berkulit hitam. Singkat cerita setelah mereka berkenalan, Bang Item merasa aman dari kejaran Belanda. Mereka pun sepakat untuk menetap dan membuka hutan di sana yang kini dikenal dengan Palasari. Maka ditunjuklah Bang Item sebagai kuwu, dan Aki Buyut Mahad sebagai wakilnya, atau disebut  “Ngabihi” pada waktu itu.
Sejak itu berdirilah sebuah desa yang diberi nama Panyalahan, diambil dari istilah Sunda “nyalahan” yang artinya kekeliruan, sebagaimana latar belakang pertemuan Bang Item dengan Aki Buyut Mahad sebelumnya.
Desa Panyalahan kemudian berkembang dan meliputi lima kampung, yaitu Palasari, Cidangiang, Babakan Cau, Langkob, dan Panyalahan. Desa ini berbatasan dengan Desa Sigung, yang terdiri dari dua kampung yaitu Sigung dan Cikujang Beet.
Untuk lebih mengeratkan persaudaraan, para tokoh dari kedua desa tersebut sepakat  meggabungkan dua desa. Terjadi penggabungan tesebut dengan menunjuk H. Abdul Majid, Kuwu Sigung, menjadi Kepala Desa pertama pada tahun 1939.
Kepala Desa yang memimpin Desa Sukahurip setelah adanya penggabungan dua desa menjadi satu desa, adalah sebagai berikut : H. Abdul Majid (1939-1945), Moch. Sobari (1945-1949), Kartasasmita (1949-1967), Djumaedi Wisastra Wijaya (1967-1981), Kaswa Usup (1981-1989), Udin Samsudin (989-1998), Mastur Chaerudin (1999-2007), dan Aan Syarif Efendi (2007-sekarang).
Demikian riwayat singkat Sukahurip sebagai bagian dari budaya masyarakat Cihaurbeuti. Tradisi Ngaruat Lembur, Tradisi Ziarah, Tradisi Hajat Tujuh Bulan, Tradisi Hajat Empat Bulan, Tradisi Numbal Bumi, dan lain-lain tetap berjalan dalam dinamika dan kearifannya. Makam Aki Buyut Mahad, menjadi cagar budaya yang dilestarikan di Sukahurip. Selain itu, terdapat satu tempat lain yang oleh sebagian masyarakat dianggap keramat, yaitu “Cihaniwung”. Namun sayang, keberadaannya sekarang kurang terawat setelah “kuncen” yang mengurusnya meninggal dunia.

0 komentar:

Poskan Komentar

ANTARA News