Translate

Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

19 November 2012

Seureupeun Cihaurbeuti


Disebutkan dalam Sejarah Singkat Bupati Sukapura I (1632-1674), Raden Patah (Sultan Demak I) memiliki putera; Raden Trenggono (Sultan Demak ke II) yang memiliki putera Joko Tingkir (Sultan Pajang) dan Pangeran Benowo (Bupati Pajang), serta Pangeran Benowo yang memiliki putera Pangeran Kusumah Diningrat.
Sewaktu terjadi perang saudara antara Pajang dan Mataram, yang selama peperangan karena Pangeran Kusumah Diningrat belum dewasa, beliau dititipkan kepada Sultan Demak. Sambil menunggu peperangan selesai, Pangeran Kusumah Diningrat mengembara mencari ilmu. Sampailah di tanah Sunda, tepatnya di Kampung Padarek, Kecamatan Cigalontang. Beliau mendapat julukan 'Pangeran Dago Jawa'.
Pangeran Kusumah Diningrat menikah dengan Raden Ayu Sudarsah, Putera Pangeran Rangga Gempol (Cucu Pangeran Geusan Ulun dari Sumedang). Beliau menurunkan putera 5 orang antara lain : (1) Seureupeun Manangel, (2) Seureupeun Cibeuli, (3) Seureupeun CIHAURBEUTI, (4) Seureupeun Dawagung, dan (5) Seureupeun Cibuniagung (yang menurunkan Sukapura).
Seureupeun Cibuniagung berputera Raden Wirahadiningrat (Entol Wiraha) dan Nyi Ageng. Raden Wirahadiningrat menikah dengan Putera Dalem Sukakerta, bernama Brajayuda, Keturunan dari Srigading Anteg (Terah Galunggung). Beliau mempunyai putera lima orang; (1) Raden Wirawangsa, (2) Raden Astrawangsa, (3) Raden Pranawangsa, (4) Raden Narahita, dan (5) Raden Bagus Halipah.
Karena kegagahan dan keberaniannya setelah selesai perang Dipati Ukur tahun 1632, Raden Wirawangsa diangkat menjadi Bupati Sukapura yang pertama dan beliau wafat pada tahun 1674, serta dimakamkan di Baganjing Sukapura.
(Anu janten perhatosan urang Cihaurbeuti, saha ari Seureupeun Cihaurbeuti teh? Naha eta anu akhir baringna janten rundayan Astamanggala (Umbul Cihaurbeuti yang kemudian menjadi bupati pertama di Bandung) tea teh?)

Read more »

Laratan Cihaurbeuti Dina Wawacan Gagak Lumayung (Wawacan Tajimalela & Prabu Kean Santang)


Tetela Cihaurbeuti mibanda laratan anu kacida linuhung. Diantarana bae coba guar Wawacan Gagak Lumayung, kalayan eces jentre ngaran Cihaurbeuti disebutkeun  sababaraha kali. Wawacan ieu ngalalakonkeun Prabu Kean Santang (aya oge anu nyebut Prabu Kian Santang, Rakean Santang) jeung Tajimalela. Anu can wanoh saha ari dua ngaran anu disebut bieu, asa kateungteuingan pisan. 
Dupi Patih Pajajaran, anu kongas gagah sakti, Perabu Tajimalela, nu kawentar liat kulit, estuning pilih tanding, henteu ngiring janten maung, ka CIHAUR jadi Ajar, seueur nu ka dinya muhit, hoyong gagah liat lir Tajimalela (Wawacan 206, Sinom).
Emut ka CIHAURBEUTI, harita keneh ge angkat, mapay jalan ngaler ngulon, ka Haur Beuti tos dongkap nepangan hiji Ajar, guru anjeunna kapungkur, Sang Prabu Tajimalela (Wawacan 254, Asmarandana).
Lalamina di CIHAURBEUTI, pangantenan Sunan tos sabulan, geureuhana teras bobot, enggalna nu dicatur, nu bobot teh sapuluh sasih, dumugi ka babarna, putra kembar lucu, mung ibuna teras wapat, nuju nuus dipulasara lastari, matak kasmaranmanah (Wawacan 352, Dangdanggula).
Sunan Rohmat teh prihatin, rehing katilar ku garwa, putra taya nu ngarorok, kapaksa bae ku rama, estuning kahesean, gentos heula nu kacatur, saderekna Bagus Daka (353). lbuna teh gaduh rayi, istri nuju kaleleban, reh dikantun putra maot, harita teh kaleresan, dirorok putra Sunan, anu nampi bingah kalbu, sarehna aya gentosna (354). Wasta eta murangkalih, Pangeran Ali Muhamad, tah nya ieu cakalna teh, dupi nami nu bungsuna, nelahna Ali Akbar, dua murangkalih mulus, lami-lami Sunan Rohmat (355). Ti dinya tos angkat deui, ngabujeng ka Kandang Serang, nya di dinya lajeng bae, ngadamel wakil nyunatan, ngahaja bae ngajar, dumugi ka puluh-puluh, tos seueur mah teras angkat (356). Bagus Daka ge teu kanti, mapay-mapay pilemburan, enggalna ieu carios, satilasna nu ngajajah, Cilampeni Korobokan, Dayeuh Handap Dayeuh Manggung, Purbasana Panunggangan (357). Ciparay sareng Cimahi, Cisiem teras Cikupa, Sangkan Pagedeng Cikaso, Mester Cirebon Cisangkan, Batara Cilolohan, Parungkawaru Cinunuk, Rancaekek Cicalengka (358). Sukamanten Sukasari, Sukamenak Kandangserang, kana tilas deui anjog, ka CIHAURBEUTI tea, manah Sunan kasuat, kagagas ku anu ngantun, emut ka garwa nu wapat (Wawacan 353 – 359, Asmarandana).

Read more »

08 November 2012

Laratan Cihaurbeuti dalam Sejarah Bandung

Tahun 1628 Sultan Agung menugasi Dipati Ukur membantu pasukan Mataram menyerang Kompeni di Batavia. Pasukan Mataram dipimpin oleh Tumenggung Bahureksa. Namun Bahureksa tidak mengadakan hubungan dengan Dipati Ukur. Oleh karena itu Dipati Ukur tidak dapat melakukan perundingan dengan Bahureksa.
Pada waktu yang telah ditentukan, Dipati Ukur memimpin pasukannya bergerak menuju Batavia untuk menyerang Kompeni. Ketika pasukan dipeti Ukur tiba di Batavia, ternyata pasukan Mataram belum datang. Oleh karena itu, Dipati Ukur gagal mengusir Kompeni dari Batavia. Kegagalan itu terjadi karena ketidakseimbangan persenjataan dan tidak mendapat dukungan dari pasukan Mataram. Padahal seharusnya pasukan Mataram yang menjadi kekuatan ini penyerangan, dibantu oleh pasukan Dipati Ukur.
Atas kegagalan menjalankan tugas dari raja Mataram, rupanya Dipati Ukur berpikir, daripada ia menerima hukuman berat dari Sultan Agung, lebih baik ia tidak setia lagi terhadap Mataram. Dipati Ukur beserta sejumlah pengikutnya mengabaikan kekuasaan Mataram dan melakukan gerakan memberontak terhadap Mataram.
Sikap Dipati Ukur tersebut segera diketahui oleh penguasa Mataram. Pihak Mataram berusaha keras menumpas pemberontakan Dipati Ukur. Bila pemberontakan itu tidak segera ditumpas, akan merugikan pihak Mataram. Dengan bantuan beberapa kepala daerah di Priangan, antara lain Ki Astamanggala dari Umbul Cihaurbeuti.
Akhirnya pemberontakan Dipati Ukur dapat dipadamkan. Menurut versi Mataram, Dipati Ukur tertangkap dan dihukum mati di Mataram. Sebaliknya, versi Priangan menyatakan bahwa orang yang tertangkap dan dihukum mati itu bukan Dipati Ukur, melainkan orang yang dikira oleh pihak Mataram adalah Dipati Ukur.
Menurut Sajarah Sumedang (babad), pemberontakan Dipati Ukur terhadap Mataram berakhir pada tahun awal tahun 1632. Dengan berakhirnya pemberontakan Dipati Ukur yang berarti berakhir pula masa jabatan Dipati Ukur sebagai Wedana Bupati Priangan, maka di daerah Priangan terjadi kekosongan pemegang jabatan wedana bupati. Bagi pihak Mataram, keadaan itu dikhawatirkan akan menimbulkan gejolak politik di Priangan. Tidak mustahil tiap kepala daerah setempat bermabisi menjadi wedana bupati. Tidak mustahil pula pengikut setia Dipati Ukur melanjutkan gerakan pemberontakan untuk melepaskan diri dari kekuasaan Mataram. Sementara itu, pihak Mataram tetap berusaha untuk menguasai Priangan, karena daerah itu penting artinya sebagai daerah pertahanan Mataram di bagian barat terhadap kemungkinan serangan Kompeni atau pasukan Banten.

Pembentukan Kabupaten Bandung
Untuk menghindari terjadinya gejolak di daerah Priangan yang akan merongrong kekuasaan Mataram, di daerah itu Sultan Agung melakukan reorganisasi pemerintahan. Wilayah Priangan (di luar Sumedang dan Galuh) dipecah menjadi tiga kabupaten, yaitu Bandung, Sukapura (sekarang Tasikmalaya), dan Parakanmuncang (sekarang sebuah desa di daerah Cicalengka). Pembentukan ketiga kabupaten itu ditandai dengan pengangkatan Ki Astamanggala (Umbul Cihaurbeuti) sebagai Bupati Bandung dengan gelar Tumenggung Wiraangunangun, Tumenggung Wiradadaha (Umbul Sukakerta) sebagai Bupati Sukapura, dan Tumenggung Tanubaya (Umbul Sindangkasih) sebagai Bupati Parakanmuncang. Pelantikan ketiga bupati itu berlangsung di ibukota Mataram dan dinyatakan dalam “Piagem Sultan Agung” bertanggal 9 Muharam Tahun Alip, penanggalan Jawa (Lihat Lampiran).
Piagem tersebut jelas merupakan bukti sejarah yang kuat dan sumber primer yang menyatakan adanya daerah bernama Bandung dan di daerah itu dibentuk pemerintahan kabupaten. Dengan kata lain, tanggal 9 Muharam Tahun Alip itulah Hari Jadi Kabupaten Bandung, sekaligus hari jadi Kabupaten Sukapura dan Kabupaten Parakanmuncang.
Menurut penafsiran F. de Haan seorang ilmuwan Belanda dalam bukunya berjudul Priangan; De Preanger Regentschappen Onder het Nederlandsch Bes-tuur Tot 1811, jilid III (1912), tanggal 9 Muharam Tahun Alip identik dengan tanggal 20 April 1641. Akan tetapi menurut perhitungan Prof Dr. Mr. Soekanto dan Dr. J. Brandes, tanggal 9 Muharam Tahun Alip bertepatan dengan tanggal 16 Juli 1633. Dalam hal ini Pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten Bandung memilih tanggal 20 April 1641 sebagai hari jadi Kabupaten Bandung4.
Setelah ketiga orang bupati tersebut di atas dilantik oleh Sultan Agung di ibukota Mataram, mereka kembali ke daerah kabupaten masing-masing dan mencari tempat untuk ibukota kabupaten. Menurut naskah Sejarah Bandung, Tumenggung Wiraangunangun (Ki Astamanggala) dari Mataram kembali ke daerah Priangan dan menuju Timbanganten. Di sana ia terdapat 200 cacah di bawah pimpinan Raden Ardisuta, putera Demang Reksakusuma. Dengan membawa cacah tersebut, Tumenggung Wiraangunangun kemudian menuju suatu tempat di tepi Sungai Citarum dekat muara Sungai Cikapundung, tidak jauh dari pertemuan Sungai Citarum dengan Sungai Citarik (daerah Kabupaten Bandung bagian selatan). Tempat itu dibangun menjadi ibukota Kabupaten Bandung dengan nama Krapyak (Dayeuhkolot sekarang).
Krapyak dipilih sebagai ibukota kabupaten rupanya dengan beberapa ertimbangan. Pertama, tempat itu terletak di tepi sungai Citarum dan tidak jauh dari muara Sungai Cikapundung. Dengan demikian, dari segi kepentingan komunikasi dan transportasi, lokasi Krapyak cukup baik, karena waktu itu transportasi yang cukup cepat hanya dapat dilakukan melalui sungai yang dapat dilayari perahu atau rakit. Kedua, lahan daerah Krapyak cukup subur dan dekat dengan sumber air, sehingga sangat memungkinkan bagi berlangsungnya ke- hidupan penduduk.
Boleh jadi, setelah Bupati Bandung berkedudukan Krapyak itulah bupati mulai menyusun struktur pemerintahan dengan mengangkat pejabat- pejabat bawahan bupati, yaitu patih, juru tulis (sekretaris) kabupaten, jaksa, penghulu, demang/kepala cutak (kepala distrik), dan lain-lain. Pejabat-pejabat itu biasanya masih ada hubungan keluarga dengan bupati.
Untuk menjalankan pemerintahan tentu dibangun infrastruktur. Namun rupanya infrastruktur yang dibangun di Krapyak masih sangat terbatas. Boleh jadi infrastruktur utama yang dibangun hanya pendopo, itupun dalam bentuk sangat sederhana. Dalam surat seorang Belanda bernama Tency yang ditujukan kepada N. Engelhard (7 Juli 1794), antara lain disebutkan bahwa “di ibukota Kabupaten Bandung waktu itu terdapat sebuah bangunan terbuat dari papan yang memiliki empat ruangan. Selain itu tidak ada lagi bangunan besar”. Dapat dipastikan yang dimaksud dengan bangunan itu adalah pendopo kabupaten, kantor bupati sekaligus tempat tinggal bupati beserta keluarganya.
Dalam menjalankan tugasnya, bupati dibantu oleh para pejabat bawah- annya seperti pada masa sebelumnya. Setelah Kompeni bertindak lebih intensif, kedudukan dan kekuasaan bupati menjadi menurun, karena Kompeni turut campur dalam pemerintahan kabupaten, tanpa berunding terlebih dahulu dengan bupati. Di kantor kabupaten ditempatkan seorang pejabat bangsa Eropa untuk mengawasi pelaksanaan Preangerstelsel, khususnya penanaman kopi yang makin ditingkatkan.
Pergantian bupati secara turun-temurun yang semula diakui oleh Kompeni, kemudian ditentukan oleh penguasa Kompeni. Akan tetapi dalam prakteknya pergantian bupati terus berlangsung secara turu-temurun. Hal itu dibiarkan oleh Kompeni, karena Kompeni tidak memiliki pengaruh terhadap rakyat. Ruang lingkup kekuasaan Kompeni hanya sampai pada bupati. Namun Kompeni tidak dapat bertindak tegas terhadap bupati. Secara garis besar hal itu disebab oleh dua faktor. Pertama, jabatan bupati tidak dapat diserahkan kepada pihak lain, selain keturunan bupati, karena hanya keturunan bupati yang memiliki kharisma dan pengaruh besar untuk menjalankan pemerintahan tradisional dan menggerakkan rakyat. Kedua, pentingnya peranan bupati bagi keperluan Kompeni, khususnya untuk keberhasilan Preangerstelsel, terutama keuntungan dari produksi kopi.
Sampai dengan akhir kekuasaan Kompeni (akhir abad ke-18), bupati yang memerintah Kabupaten Bandung dengan ibukota Krapyak berjumlah enam orang secara turun-temurun, yaitu Tumenggung Wiraangunangun (hingga tahun 1681), Tumenggung Ardikusumah (1681-1704), Tumenggung Anggadireja I (1704-1747) putra bupati kedua, Tumenggung Anggadireja II (1747-1763) putra bupati ketiga, Tumenggung Anggadireja III alias R.A. Wiranatakusumah I (1763-1794) putra bupati keempat, dan R.A. Wiranatakusumah II (1794-1829) putra bupati kelima.
Pada masa pemerintahan Bupati R.A. Wiranatakusumah II, tepatnya akhir Desember 1799 kekuasaan Kompeni di Nusantara termasuk di Priangan berakhir. Hal itu terjadi karena VOC bangkrut akibat para pejabatnya melakukan korupsi.
Dicutat tina Tulisan A. Sobana Hardjasaputra

Read more »

02 November 2012

Sejarah Ciamis

Menurut sejarawan W.J Van der Meulen, Pusat Asli Daerah (kerajaan) Galuh, yaitu disekitar Kawali (Kabupaten Ciamis sekarang). Selanjutnya W.J Van der Meulen berpendapat bahwa kata "galuh", berasal dari kata "sakaloh" berarti "dari sungai asalnya", dan dalam lidah Banyumas menjadi "segaluh". Dalam Bahasa Sansekerta, kata "galu" menunjukkan sejenis permata, dan juga biasa dipergunakan untuk menyebut puteri raja (yang sedang memerintah) dan belum menikah.
Sebagaimana riwayat kota-kabupaten lain di Jawa Barat, sumber-sumber yang menceritakan asal-usul suatu daerah pada umumnya tergolong historiografi tradisional yang mengandung unsur-unsur mitos, dongeng atau legenda disamping unsur yang bersifat historis. Naskah-naskah ini antara lain Carios Wiwitan Raja-raja di Pulo Jawa, Wawacan Sajarah Galuh, dan juga naskah Sejarah Galuh bareng Galunggung, Ciung Wanara, Carita Waruga Guru, Sajarah Bogor. Naskah-naskah ini umumnya ditulis pada abad ke-18 hingga abad ke-19. Adapula naskah-naskah yang sezaman atau lebih mendekati zaman Kerajaan Galuh. Naskah-naskah tersebut, diantaranya Sanghyang Siksakanda ÔNg Karesian, ditulis tahun 1518, ketika Kerajaan Sunda masih ada dan Carita Parahyangan, ditulis tahun 1580.
Berdirinya Galuh sebagai kerajaan, menurut naskah-naskah kelompok pertama tidak terlepas dari tokoh Ratu Galuh sebagai Ratu Pertama. Dalam laporan yang ditulis Tim Peneliti Sejarah Galuh (1972), terdapat berbagai nama kerajaan sebagai berikut: Kerajaan Galuh Sindula (menurut sumber lain, Kerajaan Bojong Galuh) yang berlokasi di Lakbok dan beribukota Medang Gili (tahun 78 Masehi?); Kerajaan Galuh Rahyang berlokasi di Brebes dengan ibukota Medang Pangramesan; Galuh Kalangon berlokasi di Roban beribukota Medang Pangramesan; Galuh Lalean berlokasi di Cilacap beribukota di Medang Kamulan; Galuh Pataruman berlokasi di Banjarsari beribukota Banjar Pataruman; Galuh Kalingga berlokasi di Bojong beribukota Karangkamulyan; Galuh Tanduran berlokasi di Pananjung beribukota Bagolo; Galuh Kumara berlokasi di Tegal beribukota di Medangkamulyan; Galuh Pakuan beribukota di Kawali; Pajajaran berlokasi di Bogor beribukota Pakuan; Galuh Pataka berlokasi di Nanggalacah beribukota Pataka; Kabupaten Galuh Nagara Tengah berlokasi di Cineam beribukota Bojonglopang kemudian Gunungtanjung; Kabupaten Galuh Imbanagara berlokasi di Barunay (Pabuaran) beribukota di Imbanagara dan Kabupaten Galuh berlokasi di Cibatu beribukota di Ciamis (sejak tahun 1812).
Untuk penelitian secara historis, kapan Kerajaan Galuh didirikan, dapat dilacak dari sumber-sumber sezaman berupa prasasti. Ada prasasti yang memuat nama "Galuh", meskipun nama tanpa disertai penjelasan tentang lokasi dan waktunya. Dalam prasasti berangka tahun 910, Raja Balitung disebut sebagai "Rakai Galuh". Dalam Prasasti Siman berangka tahun 943, disebutkan bahwa "kadatwan rahyangta I mdang I bhumi mataram ingwatu galuh". Kemudian dalam sebuah Piagam Calcutta disebutkan bahwa para musuh penyerang Airlangga lari ke Galuh dan Barat, mereka dimusnahkan pada tahun 1031 Masehi. Dalam beberapa prasasti di Jawa Timur dan dalam Kitab Pararaton (diperkirakan ditulis pada abad ke-15), disebutkan sebuah tempat bernama "Hujung Galuh" yang terletak di tepi sungai Brantas. Nama Galuh sebagai ibukota disebut berkali-kali dalam naskah sebuah prasasti berangka tahun 732, ditemukan di halaman Percandian Gunung Wukir di Dukuh Canggal (dekat Muntilan sekarang).
Pada bagian carita Parahyangan, disebutkan bahwa Prabu Maharaja berkedudukan di Kawali. Setelah menjadi raja selama tujuh tahun, pergi ke Jawa terjadilah perang di Majapahit. Dari sumber lain diketahui bahwa Prabu Hayam Wuruk, yang baru naik tahta pada tahun 1350, meminta Puteri Prabu Maharaja untuk menjadi isterinya. Hanya saja, konon, Patih Gajah Mada menghendaki Puteri itu menjadi upeti. Raja Sunda tidak menerima sikap arogan Majapahit ini dan memilih berperang hingga gugur dalam peperangan di Bubat. Puteranya yang bernama Niskala Wastu Kancana waktu itu masih kecil. Oleh karena itu kerajaan dipegang Hyang Bunisora beberapa waktu sebelum akhirnya diserahkan kepada Niskala Wastu Kancana ketika sudah dewasa. Keterangan mengenai Niskala Wastu Kancana, dapat diperjelas dengan bukti berupa Prasasti Kawali dan Prasasti Batutulis serta Kebantenan.
Pada tahun 1595, Galuh jatuh ke tangan Senapati dari Mataram. Invasi Mataram ke Galuh semakin diperkuat pada masa Sultan Agung. Penguasa Galuh, Adipati Panaekan, diangkat menjadi Wedana Mataram dan cacah sebanyak 960 orang. Ketika Mataram merencanakan serangan terhadap VOC di Batavia pada tahun 1628, massa Mataram di Priangan bersilang pendapat. Rangga Gempol I dari Sumedang misalnya, menginginkan pertahanan diperkuat dahulu, sedangkan Dipati Ukur dari Tatar Ukur, menginginkan serangan segera dilakukan. Pertentangan terjadi juga di Galuh antara Adipati Panaekan dengan adik iparnya Dipati Kertabumi, Bupati di Bojonglopang, anak Prabu Dimuntur keturunan Geusan Ulun dari Sumedang. Dalam perselisihan tersebut Adipati Panaekan terbunuh tahun 1625. Ia kemudian diganti puteranya Mas Dipati Imbanagara yang berkedudukan di Garatengah (Cineam sekarang).
Pada masa Dipati Imbanagara, ibukota Kabupaten Galuh dipindahkan dari Garatengah (Cineam) ke Calingcing. Tetapi tidak lama kemudian dipindahkan ke Bendanagara (Panyingkiran). Pada Tahun 1693, Bupati Sutadinata diangkat VOC sebagai Bupati Galuh menggantikan Angganaya. Pada tahun 1706, ia digantikan pula oleh Kusumadinata I (1706-1727).
Pada pertengahan abad ke-19, yaitu pada masa pemerintahan R.A.A. Kusumadiningrat menjadi Bupati Galuh, pemerintah kolonial sedang giat-giatnya melaksanakan tanam paksa. Rakyat yang ada di Wilayah Galuh, disamping dipaksa menanam kopi juga menanam nila. Untuk meringankan beban yang harus ditanggung rakyat, R.A.A. Kusumadiningrat yang dikenal sebagai "Kangjeng Perbu" oleh rakyatnya, membangun saluran air dan dam-dam untuk mengairi daerah pesawahan. Sejak Tahun 1853, Kangjeng Perbu tinggal di kediaman yang dinamai Keraton Selagangga.
Antara tahun 1859-1877, dilakukan pembangunan gedung di ibu kota kabupaten. Disamping itu perhatiannya terhadap pendidikan pun sangat besar pula. Kangjeng Perbu memerintah hingga tahun 1886, dan jabatannya diwariskan kepada puteranya yaitu Raden Adipati Aria Kusumasubrata.
Pada tahun 1915, Kabupaten Galuh dimasukkan ke Keresidenan Priangan, dan secara resmi namanya diganti menjadi Kabupaten Ciamis. (www.jabar.go.id )

Read more »

30 Oktober 2012

Sejarah Tasikmalaya

Sebelum ibukota Kabupaten Sukapura berkedudukan di Tasikmalaya, kota ini merupakan sebuah afdeeling yang diperintah oleh seorang Patih Lurah (Zelfstandige Patih). Waktu itu namanya Tawang atau Galunggung. Sering juga penyebutannya disatukan menjadi Tawang-Galunggung. Tawang sama dengan "sawah" artinya tempat yang luas terbuka, dalam Bahasa Sunda berarti "palalangon".
Ada pendapat lain yang menerangkan arti Tasikmalaya, yaitu berasal darikata "tasik" dan "laya", artinya "keusik ngalayah", maksudnya banyak pasir di mana-mana, mengingatkan kejadian meletusnya Gunung Galunggung Oktober 1822, yang menyemburkan pasir panas ke arah Kota Tasikmalaya. Keterangan kedua menyebutkan bahwa Tasikmalaya berasal dari kata "Tasik" dan "Malaya". Tasik dalam bahasa Sunda berarti danau, laut dan Malaya artinya nama deretan pegunungan di Pantai Malabar India.
Menurut Buku Pangeling-ngeling 300 Tahun Ngadegna Kabupaten Sukapura dan keterangan R.Yudawikarta, bahwa Sareupeun Cibuniagung berputera Entol Wiraha yang menikah dengan Nyai Punyai Agung, seorang pewaris dari Negara Sukakerta, dan Entol Wiraha diangkat menjadi Umbul di Sukakerta. Waktu Wirawangsa, putra Entol Wiraha menjadi umbul Sukakerta, Bupati Wedana di Priangan dipegang oleh Dipati Ukur Wangsanata.
Pada tahun 1628/1629 Dipati Ukur mendapat perintah dari Sultan Agung untuk menyerang Batavia bersama-sama tentara Mataram dibawah pimpinan Tumenggung Bahurekso. Dipati Ukur membawa sembilan umbul (Pemimpin Daerah), diantaranya umbul dari Sukakerta, Wirawangsa. Penyerangan yang berakhir dengan kegagalan itu menyebabkan Dipati Ukur dikejar-kejar tentara Mataram. Menurut salah satu versi dari penangkapan Dipati Ukur, yaitu pendapat K.F. Holle; bahwa ada tiga umbul yang ikut dalam penangkapan, yaitu Umbul Sukakerta Ki Wirawangsa, Umbul Cihaurbeuti Ki Astamanggala dan Umbul Sindangkasih Ki Somahita.
Atas jasa-jasanya, ketiganya diangkat menjadi mantri agung di tempatnya masing-masing. Ki Wirawangsa diangkat menjadi Mantri Agung Sukapura dengan gelar Tumenggung Wiradadaha pada tahun 1674. R.Tg. Wiradadaha I yang berjasa dalam mendirikan Kabupaten Sukapura wafat dan dimakamkan di Pasir Baganjing. R.Tg. Wiradadaha I berputra 28 orang dan digantikan oleh putranya yang ketiga, R. Djajamanggala dengan gelar Tumenggung Wiradadaha II, serta dikenal pula sebagai Dalem Tambela yang meninggal pada tahun 1674. Sebagai penggantinya untuk menjadi bupati adalah adiknya, R. Anggadipa, putra keempat R.Tg. Wiradadaha I, karena putra Dalem Tambela yang berjumlah 8 orang belum cukup umur untuk menggantikannya.
Nama R. Anggadipa I setelah menjadi bupati diganti menjadi R.Tg. Wiradadaha III yang memerintah dari tahun 1674 hingga 1723. Pada masa itu kemajuan agama dipentingkan sekali, karena adanya anjuran dari Sjeh Abdul Muhyi di Pamijahan yang menjadi perintis Agama Islam di Kabupaten Sukapura. Dalam memegang pemerintahan, R.Tg. Wiradadaha III dibantu empat orang puteranya yang masing-masing mempunyai pembagian kerja. Adanya pembagian kerja ini membuat R.Tg. Wiradadaha III terkenal sebagai Bupati Sukapura terkaya. Selain itu memiliki putra terbanyak 62 orang, sehingga lebih dikenal dengan nama Dalem Sawidak.
Pada tahun 1900 Bupati Sukapura XII, R.T. Wirahadiningrat yang memerintah dari tahun 1875 hingga 1901 mendapat Bintang Oranye Nasau, dari pemerintah Hindia Belanda yang menjadikan namanya dikenal sebagai Dalem Bintang. Pada tahun itu pula ibukota Sukapura dipindahkan dari Manonjaya ke Tasikmalaya. Adapun yang melaksanakan perpindahan ibukota adalah penggantinya, yaitu R.Tg. Wiriaadiningrat, Bupati Sukapura XIII. Ada beberapa alasan dipindahkannya ibukota Kabupaten Sukapura ke Tasikmalaya, di antaranya karena daerah Tasikmalaya yang lebih dekat ke Galunggung termasuk daerah yang subur sehingga baik untuk penanaman nila, disamping itu daerah kota Tasikmalaya lebih luas, datar dan indah dibandingkan Manonjaya.
Pada tahun 1942, penjajahan Belanda berakhir diganti dengan pemerintahan militer Jepang. Karena adanya peraturan pengumpulan beras dari pemerintahan Jepang, pernah muncul pemberontakan para santri di pasantren Sukamanah yang dipimpin seorang ulama besar, K.H.Z. Mustofa yang dibela Bupati R.T. Wiradiputra.

Read more »

29 Oktober 2012

Karuhun Cihaur dalam Sejarah Tasikmalaya

Sebelum ibukota Kabupaten Sukapura berkedudukan di Tasikmalaya, kota ini merupakan sebuah afdeeling yang diperintah oleh seorang Patih Lurah (Zelfstandige Patih). Waktu itu namanya Tawang atau Galunggung. Sering juga penyebutannya disatukan menjadi Tawang-Galunggung. Tawang sama dengan "sawah" artinya tempat yang luas terbuka, dalam Bahasa Sunda berarti "palalangon".
Ada pendapat lain yang menerangkan arti Tasikmalaya, yaitu berasal dari kata "tasik" dan "laya", artinya "keusik ngalayah", maksudnya banyak pasir di mana-mana, mengingatkan kejadian meletusnya Gunung Galunggung Oktober 1822, yang menyemburkan pasir panas ke arah Kota Tasikmalaya. Keterangan kedua menyebutkan bahwa Tasikmalaya berasal dari kata "Tasik" dan "Malaya". Tasik dalam bahasa Sunda berarti danau, laut dan Malaya artinya nama deretan pegunungan di Pantai Malabar India.
Menurut Buku Pangeling-ngeling 300 Tahun Ngadegna Kabupaten Sukapura dan keterangan R. Yudawikarta, bahwa Sareupeun Cibuniagung berputera Entol Wiraha yang menikah dengan Nyai Punyai Agung, seorang pewaris dari Negara Sukakerta, dan Entol Wiraha diangkat menjadi Umbul di Sukakerta. Waktu Wirawangsa, putra Entol Wiraha menjadi umbul Sukakerta, Bupati Wedana di Priangan dipegang oleh Dipati Ukur Wangsanata. (sareupeun Cibuniagung adalah salah satu saudara dari Sareupeun Cihaurbeuti yang melahirkan rundayan keturunan di Cihaurbeuti).
Pada tahun 1628/1629 Dipati Ukur mendapat perintah dari Sultan Agung untuk menyerang Batavia bersama-sama tentara Mataram dibawah pimpinan Tumenggung Bahurekso. Dipati Ukur membawa sembilan umbul (Pemimpin Daerah), diantaranya umbul dari Sukakerta, Wirawangsa. Penyerangan yang berakhir dengan kegagalan itu menyebabkan Dipati Ukur dikejar-kejar tentara Mataram. Menurut salah satu versi dari penangkapan Dipati Ukur, yaitu pendapat K.F. Holle; bahwa ada tiga umbul yang ikut dalam penangkapan, yaitu Umbul Sukakerta Ki Wirawangsa, Umbul Cihaurbeuti Ki Astamanggala, dan Umbul Sindangkasih Ki Somahita.
Atas jasa-jasanya, ketiganya diangkat menjadi mantri agung di tempatnya masing-masing. Ki Wirawangsa diangkat menjadi Mantri Agung Sukapura dengan gelar Tumenggung Wiradadaha pada tahun 1674. R.Tg. Ki Astamanggala (umbul Cihaurbeuti) diangkat menjadi mantri agung (bupati) Bandung dengan gelar Tumenggung Wiraangunangun, dan Tanubaya sebagai bupati Parakanmuncang. Ketiga orang itu dilantik secara bersamaan berdasarkan “Piagem Sultan Agung”, yang dikeluarkan pada hari Sabtu tanggal 9 Muharam Tahun Alip (penanggalan Jawa).
Sumber : Sejarah Tasikmalaya, Tulisan Ietje Marlina.

Read more »

ANTARA News